Monster Hunter: World, Serial Gim yang Tidak akan Ingkar Janji

4/4 = Wajib Beli

Monster Hunter: World sukses menjual apa yang dijanjikan oleh judulnya. Bukan buat semua orang, tapi kalau kamu suka ide sederhana ‘berburu monster raksasa’, jangan sampai lewatkan gim yang satu ini.
Rilis:
26 Januari 2018 (Console);
9 Agustus 2018 (PC)
Platform:
PS4, Xbox One, PC (Steam)
Kooperatif:
Ya; 4 pemain; 16 pemain di lobi
PVP:
Tidak

Serial Monster Hunter merupakan serial yang saya ‘takuti’ sejak lama — terutama saat masih rilis di PSP, mengingat kontrol kebanyakaan game 3D sangat tidak nyaman dan melelahkan berkat analog yang cuma sebiji. Untungnya Capcom tetap memberi jalan untuk orang-orang yang memilih PC gaming daripada PS4 atau Xbox One dengan merilis Monster Hunter: World di tiga platform tersebut. Dan untungnya pula keputusan itu berbuah luar biasa manis, melempar Monster Hunter menjadi serial terlaris Capcom dengan penjualan mencapai 15 juta kopi sampai Januari 2020.

Usai menikmati 390 jam Monster Hunter: World bersama rilisnya expansion pack Iceborne untuk PC (yang menambah 44 jam lagi, setidaknya saat ulasan ini mulai digarap), saya rasa sudah jadi tanda kalau tidak ada salahnya menulis soal salah satu gim terbaik sepanjang dua tahun terakhir.

Hal paling pertama yang harus dijelaskan adalah: di sini cerita bahkan bukan ada sebagai pemanis, tapi cuma buat memberimu alasan-luar-biasa-cetek melawan makhluk-makhluk raksasa — sesuai judul gimnya. Gim ini benar-benar berkutat di satu hal saja. Kamu seorang monster hunter, sana pergi berburu monster!

Walaupun ceritanya sangat sederhana dan gameplay loop-nya begitu-begitu saja, Monster Hunter: World juga sukses merepresentasikan kata terakhir di judulnya. Kamu akan merasa menjadi bagian sebuah ekosistem tempat para monster buruan kita hidup. Kita bisa melihat mereka mengejar hewan-hewan lain sebagai mangsanya, makan saat lelah, tidur, buang air di tengah jalan, bahkan mengusir monster lain yang masuk ke wilayahnya.

Ditambah ‘daging utama’ gim ini yakni gameplay combat-nya luar biasa memuaskan. Singkat kata: Monster Hunter itu bagaikan gim Fighting khusus PVE.

Panjang kata: Buat senjata jarak dekat (atau veteran menyebutnya Blademaster) hanya ada dua tombol serangan (B, Y / ○, △), satu tombol menghindar (A; x) dan dua tombol khusus (L2/R2; RT/LT) dengan fungsi berbeda tergantung senjata yang kamu gunakan. Nah dari sedikit kombinasi tombol yang disediakan kamu bisa melancarkan sejumlah serangan yang efektif digunakan di momen-momen berbeda. Sangat mudah dilancarkan — tapi menggunakannya secara efektif saat seekor Diablos mengamuk dan siap menabrakkan tanduknya ke mukamu? Anggap saja seperti memikirkan kapan kamu harus memakai Shoryuken, Tatsumaki Senpukyaku, atau Heavy Attack standar di Street Fighter.

Luar biasa penting untuk mengetahui luar-dalam baik karakteristik senjata dan sifat monster yang kamu hadapi agar menjadi monster hunter sejati.

Untungnya menghabiskan waktu mempelajari kapan Rathalos terbang, kapan mengayun ekor dan membuatmu keracunan dengan melawannya berkali-kali membuahkan hasil lain yang menyenangkan pula bagimu: bahan-bahan crafting senjata dan baju baru bak Lebaran. Bukan sekadar mencari penampilan keren saja (slang kecenya ‘Fashion Hunter’) tiap bagian armor bakal memberikanmu beragam skill pasif khusus demi membantu rutinitas berburu; dari peningkatan damage mentah macam Attack Boost dan Critical Boost, membuat hidup lebih nyaman seperti Earplug dan Tremor Resistance, sampai mempercepat farming item misalnya Botanist dan Carving Master. Lalu menyentuh midgame, kamu bisa mendapatkan Jewel buat memperkuat efek tiap-tiap skill tersebut.

Berburu, bikin equip, ulangi. Seperti itu saja inti utama permainannya dan kenapa tadi saya bilang ‘gameplay loop-nya begitu-begitu saja’ — yang untungnya gameplay arcade itu dan combat mantapnya saling melengkapi. Buat menikmati Monster Hunter: World kamu tidak perlu menghabiskan sesi panjang menonton cutscene atau mendengarkan eksposisi dari NPC, cukup jalankan satu-dua misi dan keinginan berburu monster raksasa pasti sudah terpuaskan.

Namun di luar kesederhanaan yang sempurna tersebut bukan berarti keseluruhan gim ikut sempurna. Setidaknya, bagi saya, ada sejumlah hal yang cukup merusak kenyamanan bermain Monster Hunter: World:

  1. Tidak ada fitur pause bahkan saat main luring. Paling banter masuk mode Sleep di PS4 kalau kata orang-orang;
  2. Fitur daring yang ‘setengah matang’:
    • Bawaan dari sistem lama, alih-alih membuat markas Astera jadi online hub yang bisa menampung seluruh pemain di satu lobi, lobi daring dipisah ke ruangan Gathering Hub, membuat luasnya Astera malah jadi merepotkan (ditambah sebagian besar NPC penting buat farming item dan bikin senjata tidak ada di Gathering Hub);
    • Harus menunggu host quest melihat cutscene baru bisa gabung ke quest-nya;
    • Event musiman yang dibatasi waktu. Apalagi kalau tahu Event Quest Monster Hunter lama diunduh permanen, rasanya cukup menyebalkan dijebak sistem retensi pemain macam ini.
  3. Sistem jebakan Trap dan Drugged Meat terasa seperti mekanisme lama yang gagal diterjemahkan ke gameplay baru yang perlu dikembangkan supaya menangkap monster bukan sekadar kewajiban quest tertentu atau memotong 2-3 menit waktu berburu. Terutama Drugged Meat yang cuma bisa dipakai buat monster karnivora (jelas memang, tapi harusnya ada alernatif buat herbivora) dan efeknya tidak langsung terlihat;
  4. Desain equipment yang kurang ‘wah’: Tidak seperti kebanyakan gim yang ‘memaksamu buat farming/grinding‘, membuat dan melihat equipment baru adalah gameplay loop utama Monster Hunter. Jadi ketika banyak senjata atau baju yang kurang menarik maka otomatis mengurangi insentif pemain buat terus bermain;
  5. Kurangnya dukungan buat sistem Layered Armor: Layered Armor memungkinkanmu menimpa tampilan baju yang kamu pakai dengan baju lain; masalahnya, pilihan Layered cuma sedikit (tidak ada Layered dari equipment standar) dan setengahnya disembunyikan sebagai hadiah melawan monster-monster Event yang luar biasa kuat macam Arch-Tempered, Extreme Behemoth, dan Ancient Leshen.;
  6. Port PC yang terlambat: Banyak gim Capcom lain (Devil May Cry, Resident Evil) lama dan baru bisa rilis console dan PC bersamaan. Apalagi mengingat sebenarnya Monster Hunter: World bukan gim PC pertama tim MH, Frontier juga dirilis buat PC.

Nah, kalau kamu bisa tahan akan semua kekurangan itu dan menikmati gameplay loop sesederhana gebuk-gebukin monster raksasa, maka kamu tidak perlu berpikir dua kali buat lompat ke Monster Hunter: World Iceborne yang kurang-lebih memberikan lebih banyak lagi semua hal yang kamu cintai dari versi vanila.

MONSTER HUNTER: WORLD | Steam – Rp334.999
[Harga rilis: Rp499.999; Diskon termurah: Rp199.999]

Iceborne, Tangan Dingin Capcom Perluas Popularitas Monster Hunter

4/4 = Wajib Beli

Iceborne tidak akan mengubah pendapat ‘bukan-penggemar’ Monster Hunter: World, tapi para penggemarnya 100% akan dimanjakan oleh expansion pack berikut.
Rilis:
6 September 2019 (Console);
9 Januari 2020 (PC)
Platform:
PS4, Xbox One, PC (Steam)
Kooperatif:
Ya; 4 pemain; 16 pemain di lobi
PVP:
Tidak

Sembari menunggu Iceborne keluar di PC, saya memainkan beberapa jam awal Monster Hunter 3rd Portable di PS Vita. Dilengkapi kontrol yang lebih kaku, kamu benar-benar harus lebih mempersiapkan banyak hal sebelum dan saat menjalankan quest; stamina cepat habis, semua benda memakan ruang inventory (termasuk bahan crafting dan alat-alat mengumpulkannya), animasi yang lebih makan waktu, dan hal merepotkan lainnya. Tidak semulus World jelas (jauh banget malah), tapi sama menyenangkannya.

Kurasa Iceborne, selain meningkatkan semua aspek bagus dari Monster Hunter: World, juga menangkap segelintir nuansa judul-judul lamanya.

Melanjutkan tamatnya World, bersama anggota Fifth Fleet lainnya kamu akan diajak bertualang di daratan putih salju Hoarfrost Reach. Suhu dinginnya yang membuat karaktermu menggigil memaksamu buat selalu membawa Hot Drink atau mencari mata air panas dan bekal Ration/Well-Done Meat jika tidak mau stamina permanen terpotong sepanjang misi. Setidaknya di early game manajemen inventory dan sumber daya terbilang penting mengingat expansion pack ini menambah tingkat kesulitan baru Master Rank, diikuti 20 monster anyar dan memberi variasi serangan baru pada monster yang sudah ada sebelumnya.

Sebagai expansion pack Iceborne berusaha meng-expand sejumlah — bukan semua, ingat — masalah atau hal yang kurang dimanfaatkan pemain.

Paling utama dan paling jelas terlihat, lobi/hub-nya kini sangat padat. Tidak perlu lagi naik-turun lantai seperti di Astera, di markas Seliana semua lokasi NPC dibuat lebih rapat, menambah kesan ‘hangat’ dan ramai base camp tersebut. Di Gathering Hub-nya pun kamu nggak perlu keluar-masuk cuma buat mengambil Bounty karena semua fitur esensial ditambahkan ke dalamnya bahkan termasuk Smithy.

Kedua, Slinger, ‘senjata sekunder’ untuk menembakkan batu dan alat berburu lainnya mendapat buff besar-besar. Lewat mekanisme Clutch Claw-nya kamu bisa menghabiskan seluruh amunisi Slinger di wajah monster, memaksa mereka menabrak tembok atau ‘mendarat darurat’kan yang sedang terbang. Tidak pernah bosan rasanya mengakhiri perburuan dengan membuat seekor Barioth tewas menghajar tebing beku.

Dengan Clutch Claw pun kamu bisa melemahkan anggota tubuh monster (menghasilkan damage ekstra buat bagian tubuh tersebut) atau menjatuhkan Slinger Ammo — tergantung dari jenis senjatamu, Light atau Heavy Weapon. Ditambah semua 14 mendapat combo baru, baik dengan memanfaatkan Slinger Ammo maupun tidak. Contohnya Wyrmstake Blast milik Gunlance yang menukar amunisi Slinger untuk menambah daya ledak atau Thousand Dragon milik Bow yang cara kerjanya serupa, Bowgun dapat mod yang memungkinkanmu isi ulang amunisi sambil menghindar, dan masih banyak lagi.

 

Ketiga, fitur Expedition yang menghapus batas waktu dan memberimu ruang menjelajah ikut ‘diperbaiki’ lewat endgame content The Guiding Lands. Pemain hardcore akan menghabiskan banyak waktu di sini karena tempat unik yang menggabungkan lanskap Ancient Forest, Wildspire Waste, Coral Highlands, dan Rotten Vale ini menjadi tempat bernaung sejumlah monster dan material farming spesial, yang jelas sangat bermanfaat untuk meng-Augment equipment-mu jadi lebih kuat lagi. Karena mengadopsi sistem yang serupa dengan Expedition biasa, satu-satunya penalti yang kamu terima saat tewas hanya berkurangnya bonus material.

Ya. Di The Guiding Lands kamu bisa mati berkali-kali tanpa perlu terlalu khawatir dipaksa pulang. Hmmm, mungkin khawatir monster sasaranmu keburu pergi saja kali.

Kini keluhan terbesarnya pun tinggal tiga:

  1. Sekali lagi, beberapa desain masih terbilang mengecewakan, terutama monster dari gim-gim lama yang dulunya sudah punya desain mentereng macam Brachydios and Glavenus;
  2. Rilis PC yang kembali bermasalah: pribadi saya hanya sempat kena pemakaian CPU yang lebih tinggi dari sebelumnya dan kasus koneksi terputus yang hilang-muncul, tapi banyak warganet yang melapor pemakaian CPU sampai 100%, crash, stutter, bahkan hilangnya save data.
  3. Waktu ditemani Serious Handler terlalu singkat!

Amat disayangkan produser Ryozo Tsujimoto dan tim sudah memastikan kalau Iceborne adalah satu-satunya expansion untuk Monster Hunter: World (seperti update G-Rank dulu) — tapi setidaknya mereka masih menyimpan banyak kejutan sepanjang 2020. Kita nantikan saja update-update tersebut dan bakal sespektakuler apa sekuelnya di masa depan.

MONSTER HUNTER: WORLD Iceborne | Steam – Rp445.999

http://stoplayingame.com/wp-content/uploads/2020/02/monhun-07.jpghttp://stoplayingame.com/wp-content/uploads/2020/02/monhun-07-150x150.jpgUnit076PCReviewCapcom,game coop,Monster Hunter,PS4,Steam,Xbox OneMonster Hunter: World, Serial Gim yang Tidak akan Ingkar Janji 4/4 = Wajib Beli Monster Hunter: World sukses menjual apa yang dijanjikan oleh judulnya. Bukan buat semua orang, tapi kalau kamu suka ide sederhana 'berburu monster raksasa', jangan sampai lewatkan gim yang satu ini. Rilis: 26 Januari 2018 (Console);9 Agustus...and get a life!