Awalnya, kehadiran Epic Games Store terdengar seperti angin segar bagi mereka (baca: saya) yang cukup muak dengan monopoli Steam. Meski Ubisoft, EA, atau Activision punya launcher-sekaligus-toko masing-masing juga, tapi konflik kepentingan perusahaan raksasa macam mereka pasti tidak mampu menyaingi ekspansi Valve. Nampaknya pencipta Unreal Engine itu bisa dipercaya.

Sayang Epic hadir tanpa taring — lalu ujung-ujungnya memakai gigi palsu dari developer-developer lain (langkah putus asa yang bisa dimaklumi tapi mudah dibenci). Namun di sisi lain mereka memberikan insentif besar bagi para developer untuk ‘berpindah kesetiaan’ baik dari segi tempat menjual maupun engine yang dipakai:

Namun bagi pengguna sendiri: apa manfaatnya? Kaum hardcore bisa jadi punya dorongan untuk mendukung developer favorit mereka. Tapi ada saja orang-orang yang sebodo amat soal itu.

Pribadi, saya ingin Epic Games Store sukses bersaing dengan Steam agar kedua (dan platform lain) terus membenahi produk mereka atas nama persaingan. Namun pertama-tama ada tiga hal besar yang perlu Epic perbaiki agar para (calon) penggunanya mau berlama-lama di tokonya.

1. Desain yang Tidak Nyaman Buat Belanja

Epic Games Store header

Begitu kamu membuka Epic Games Store pasti akan merasakan kilas balik ‘demam UI Metro’ yang sempat melanda 2010an awal; kotak-kotak memanjang, melebar, memenuhi window aplikasi tersebut.

Secara pribadi desain macam ini sama sekali tidak terasa enak terutama untuk window shopping. Kotak-kotak dan gambar sangat memakan tempat, tidak ada nomor halaman sehingga memaksamu scroll ke bawah terus tanpa akhir, tag maupun kategori tidak terlihat sama sekali di halaman depan(, no Wishlist?)… belum lagi search bar-nya kecil!

Masuk ke halaman gim pun malah disambut video instant play segeda gaban yang memohon untuk segera dilewatkan karena informasi penting yang lebih cepat dicerna tersembunyi di bawah, lengkap dengan skema warna tidak konsisten di tiap halamannya.

Epic Games Store

  • kiri atas: halaman Tom Clancy’s The Division 2;
  • kanan atas: halamanĀ Borderlands 3;
  • kiri bawah: halamanĀ Mechwarrior 5 Mercenaries;
  • kanan bawah: halamanĀ Control.

Bahkan di satu masa, halaman Tom Clancy’s The Division 2 tidak langsung memperlihatkan tombol ‘Buy’ dan harganya: kamu harus masuk ke halaman utama gim itu dulu, memilih nama edisi (Standard, Gold, Ultimate) yang diinginkan, baru kelihatan harga dan tombol.

Untungnya sekarang mereka sudah merevisi tampilan supaya proses pembelian lebih instan. Tapi bicara proses beli — mana Cart/Keranjang Belanjanya?

Ya, sampai artikel ini ditulis kamu masih harus membeli barang satu per satu di Epic Games Store. Lucunya seorang warganet (mungkin kamu kenal sebagai YouTuber bernama Pat) sempat mengklaim kalau akunnya dianggap bermasalah karena membeli 5 gim berbeda berturut-turut!

Sejujurnya isu akun bodong yang memborong gim digital dengan kartu kredit curian — terutama saat ada diskon besar-besaran — memang sudah menjadi masalah sejak pasar digital makin berkembang. Tapi hampir semua toko digital lain saja tetap berani menyediakan fitur Cart.

Baik aplikasi sendiri macam Steam dan Uplay punya, toko berbasis peramban macam GOG, Green Man Gaming, Humble Store punya. Origin milik EA yang tidak bisa dibilang contoh bagus pun (terutama karena update aplikasi saja tidak ada perkiraan waktu selesai maupun kecepatan unduh) membuka sistem Cart saat ada promo!

Epic Games Store ini sangat terasa seperti Epic memaksa menambahkan fitur ecommerce ke Epic Games Launcher mereka.

2. Kurang Fitur-Fitur ‘Standar’

Epic Games Store header

Search baru diimplementasi Maret 2019, Cloud Save baru diimplementasi Juli 2019 — untuk 2 judul, 15 game lain mengejar September 2019. Manage Account masih harus buka aplikasi lain.

Kapan Epic Games Launcher berubah jadi Epic Games Store? Desember 2018. Perlu waktu 3 bulan hanya untuk memberikan fitur Pencarian di sebuah toko digital. Kenapa begitu?

Tentu saja update berkala menambahkan fitur-fitur yang kita semua tunggu merupakan hal bagus dan memang pastinya bakal mereka lakukan cepat atau lambat. Masalahnya adalah mereka memilih ‘lambat’.

Bilang, “Steam bisa punya banyak fitur karena dia lahir duluan,” pun sah-sah saja. Tapi tidak menjawab pertanyaan, “Kalau begitu kenapa nggak langsung menyediakan fitur-fitur yang disajikan saingan?”

Seperti yang sudah dibilang di poin sebelumnya, Epic nampak tidak siap. Kutipan dari CEO Epic Games Tim Sweeney berikut meskipun hanya menjelaskan soal salah satu bug fitur, tapi rasanya menggambarkan keseluruhan proses penciptaan Epic Games Store:

“The current [accessing of Steam files] implementation is a remnant left over from our rush to implement social features in the early days of Fortnite. It’s actually my fault for pushing the launcher team to support it super quickly and then identifying that we had to change it. Since this issue came to the forefront we’re going to fix it.”

And seriously. Where is the Cart?

3. ‘Mendukung’ Lebih dari 230 Negara

Epic Games Store header

Kembali mengutip Sweeney, toko mereka “mendukung lebih dari 230 negara.” Tapi soal mata uang sendiri baru mendukung Dollar AS, Poundsterling, Euro, Zloty, Ruble, Won, Yen, Lira, dan Hryvnia mengutip halaman Epic Games Store per Agustus 2019.

Menarik melihat sejumlah mata uang Eropa Timur mengingat salah satu resep sukses Steam adalah menguasai perang digital dengan menaklukkan ‘Musim Dingin Rusia’ — itu pun tidak lewat perang harga. Tapi banyak hal berubah. Bahkan Origin mendukung Dollar Singapura. Microsoft Store, yang tidak dipakai gamer mana pun, mendukung mata uang Asia Tenggara termasuk Rupiah (kemungkinan besar dibantu sejarah mereka sebagai perusahaan perangkat lunak multinasional. Lokalisasi harga juga masih harus diperbaiki). Bicara Asia, wilayah mana yang menjadi penyumbang terbesar industri gim belakangan ini?

Walaupun kalau kita lihat-lihat dari pilihan pembayaran, alternatif yang disediakan Epic Games Store lumayan menarik: buat Indonesia tertulis kamu bisa membayar lewat Alfamart, Doku Wallet, dan XL Axiata.

Epic Games Store vs Steam

Tapi tanpa konversi harga (bisa dilihat pada perbandingan harga Vampire: The Masquerade – Bloodlines 2 di atas), nilai tukar Rupiah masih luar biasa lemah terhadap Dollar AS. Rasanya hal serupa juga dirasakan negara-negara Asia Tenggara lain.

Di sisi lain nampaknya beberapa negara pengguna nama Dollar seperti Jamaika mendapat konversi harga walau tidak memakai mata uang lokal. Ditambah Epic juga diam-diam sudah meluncur di Cina jadi mereka mungkin tidak merasa terburu-buru buat mengejar pasar Asia sisanya.

Secara pribadi masalah harga ini merupakan masalah terbesar toko-toko digital yang nyaris tidak pernah dibahas oleh situs-situs gim luar negeri. Hanya menyarankan untuk tidak mengeluh dan dukung developer. Tapi kalau konsumen merasa nilainya tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan, sah-sah saja dong mereka mencari alternatif yang lebih cocok?

Lalu Bagaimana ‘Memperbaikinya’?

Epic Games Store header

Jelas tidak ada jawaban dan proses instan dalam persaingan besar seperti ini. Tapi mengulang kembali judul artikel ini, Epic harus bisa memberi alasan bagi konsumen maupun calon konsumen untuk ‘memakai’ Epic Games Store. Membiarkan program berjalan bukan hanya karena ingin main.

Hak eksklusif merupakan cara paling ‘kasar’ yang bisa mereka lakukan demi menggaet userbase, karena itu seharusnya langkah ini dibarengi dengan kebijakan-kebijakan lain yang tidak hanya pro-developer, tapi juga pro-konsumen. Selain isu potongan komisi 30%, ‘kelebihan-kelebihan’ Steam lain merupakan kelemahan terbesar mereka yang bisa dieksploitasi — dan sebenarnya Epic sudah menyadarinya:

  1. Kebijakan rating/sensor yang plin-plan: peluncuran perdana Epic Game Store menjanjikan pilihan gim yang terkurasi;
  2. Katalog yang terlalu padat: jika memang terus dikurasi dengan efektif, jumlah gim yang (lebih) sedikit justru terlihat lebih atraktif bagi pengguna yang tidak ingin repot;
  3. Diskon besar-besaran (yang menurunkan nilai gim indie di mata konsumen): subsidi diskon bagi developer adalah cara menarik tapi Epic sebaiknya mengurangi periode-periode diskon dan justru menjaga kesan ‘elit’ supaya toko mereka tidak terkesan menjual apa saja sembarangan seperti Steam.

Tiga hal itu sudah, lalu apalagi yang bisa dilakukan? Director of Publishing Strategy Epic Games Sergey Galyonkin sendiri setuju kalau meniru fitur-fitur sosial Steam bukan cara efektif untuk menyaingi mereka jadi kita bisa melihat contoh lain; misal Discord yang menjadi chatroom dan ruang komunitas nomor satu bagi kaum gamer atau GOG dengan GOG Galaxy 2.0 yang berniat menyatukan seluruh launcher (seperti halnya Discord dulu).

Saat mengumumkan peluncuran Epic Games Store, mereka berjanji akan membuka akses “untuk Android dan open platform sepanjang 2019.” Mungkin dari sini kita bisa memberi nilai tambah baru pada Epic Games Store:

  • Emulator Android built-in di launcher seperti Tencent Gaming Buddy, memungkinkan pengguna mencoba judul-judul Unreal Engine mobile di PC;
  • Dukungan crossplatform PC-mobile lengkap dengan semacam server browser untuk gim-gim yang memakai Unreal Engine;
  • Lebih menekankan dukungan pada platform selain Windows macam Mac dan Linux, seperti halnya GOG.com mengompilasi gim DOS jadul supaya bisa dimainkan di sistem operasi modern.
  • Secara pribadi saya ingin klien peer-to-peer pengganti Tunggle/Hamachi/Gameranger yang 100% dapat bekerja dengan mudah untuk semua gim. Ini cara lain pula untuk mendukung/menghidupkan kembali fitur multiplayer di judul-judul lama!
  • Terakhir dan sangat penting: jangan lupa untuk mendukung lebih banyak mata uang lokal lagi.

Sukses menciptakan retensi, membuat orang membuka aplikasimu tanpa alasan, bukan cuma langkah awal membangun userbase loyal — tapi juga ‘menguangkan’ mereka di kemudian hari. Meme Lord Gaben dan PC Master Race == Steam jelas punya efek samping.

Coba saja kita lihat data Steam Stats saat artikel ini ditulis alias 21 Agustus 2019, 14 juta lebih pengguna Steam aktif bersamaan; dan 100 gim terpopuler termasuk DOTA 2 dan PUBG hanya menampung sekitar 3.469.801 dari mereka. Ke mana sisanya? Rasanya seperti saya saja, apakah saya main Monster Hunter: World sambil menggarap artikel ini berbarengan? Jelas tidak.

(Walaupun ternyata bisa jadi akan ada migrasi besar-besaran di Steam China, patut diperhitungkan dampaknya pada userbase internasional.)

Epic Games Store vs Steam

http://stoplayingame.com/wp-content/uploads/2019/08/ebin-01.jpghttp://stoplayingame.com/wp-content/uploads/2019/08/ebin-01.jpgUnit076Editorialdigital,Epic Games,SteamAwalnya, kehadiran Epic Games Store terdengar seperti angin segar bagi mereka (baca: saya) yang cukup muak dengan monopoli Steam. Meski Ubisoft, EA, atau Activision punya launcher-sekaligus-toko masing-masing juga, tapi konflik kepentingan perusahaan raksasa macam mereka pasti tidak mampu menyaingi ekspansi Valve. Nampaknya pencipta Unreal Engine itu bisa dipercaya. Sayang Epic...and get a life!