The Mean Greens – Plastic Warfare mengajak kita kembali memasuki medan pertempuran klasik yang beda dari yang lain: pertempuran tentara mainan hijau dan krem.

The Mean Greens header

The Mean Greens – Plastic Warfare

Platform: PC (Steam)

Developer: Virtual Basement LLC, Code Headquarters LLC

Publisher: Virtual Basement LLC

Rilis: 9 Desember 2015

Harga: Rp115.999

The Mean Greens adalah sebuah game yang sangat “bersahaja.” Gameplay-nya sederhana, third-person shooter standar dimana semua pemain punya akses langsung ke lima senjata yang sama bahkan ketika baru masuk permainan; assault rifle, shotgun, sniper, bazooka, dan flamethrower. Tidak perlu menghabiskan berpuluh-puluh jam untuk membuka senjata baru. Atau menghafal lokasi senjata tertentu untuk tiap map. Tinggal pilih server dan bersiap untuk habisi tim lawan.

Dari segi visual pun sebenarnya tidak ada yang spesial, hanya saja tim Virtual Basement berhasil menampilkan grafis yang bisa dibilang unik. Kita sebagai pemain akan merasa kecil di dalam lingkungan yang dibentuk dari kotak sereal dan balok-balok raksasa. Desain utama map menggunakan lokasi sehari-hari yang terasa akrab seperti bak mandi, akuarium, kue ulang tahun, dan meja foosball membantu memperkokoh perbandingan skala yang digambarkan game ini. Saya rasa selain serial Toy Soldiers (dan Toy Story 3), sepertinya tidak ada game modern lain yang menggunakan gaya “dunia mainan” seperti mereka.

Dirilis dengan 10 map berbeda, tiap map memiliki mode permainan yang berbeda-beda pula mulai dari mode standar seperti Team Deathmatch dan King of The Hill, hingga mode sepak bola dan mode berorientasi pada penggunaan flamethrower yaitu balapan menyalakan lilin ulang tahun dan melelehkan mainan dinosaurus dari es batu.

Musik yang sangat catchy juga memperkuat suasana penuh aksi tetapi riang dan jenaka yang diusung oleh game ini, dengan lagu tema utama game diaransemen ulang untuk tiap map. Khusus untuk map bertema Natal misalnya, maka akan diiringi gemerincing bel. Begitu pula dendang “Happy, happy birthday” yang menyertai map kue ulang tahun (cek di menit 19:26 di video di bawah!).

Bisa dibilang Virtual Basement melakukan semua hal yang mereka pamerkan untuk game ini, dan mereka berhasil melaksanakannya dengan cukup baik.

Pujian saya terhadap produk ini tidak berhenti pada sisi game-nya saja, tetapi juga untuk pihak pengembang. Virtual Basement dan Code Headquarters mendengar keluhan-keluhan dari para pemain dan terus memperbaiki kekurangan dalam tiap patch. Seperti yang bisa kamu lihat di patch notes-nya, mereka terus menambahkan fitur-fitur baru mulai dari sistem sortir server yang lebih baik, animasi meleleh jika terbakar (yang tadinya tidak ada pas baru rilis), hingga fitur menembak sambil melompat yang memang cukup krusial untuk beberapa map tertentu.

Kekurangan utama dari The Mean Greens sebenarnya cuma satu: sisi jaringan yang lemah.

Pilihan “Find Game” seringkali memasukkan saya ke server yang penuh — atau malah kosong sama sekali. Latency server pun biasanya sangat tinggi sehingga permainan sering sekali lag (harus dicatat: terakhir kali saya main server Asia belum ada, semoga tambahan tersebut dapat memperbaiki masalah tersebut). Ditambah dengan hit confirm yang bisa dibilang hampir tidak ada. Sejak pertama kali bermain, saya tidak pernah yakin tembakan saya berhasil mengenai musuh hingga melihat karakter lawan akhirnya terjerembab atau melihat notifikasi di kiri atas layar bahwa saya sudah berhasil menghabisi lawan. Walau memang tembakan saya berhasil mengenai musuh, tapi kurangnya animasi tertembak dan hitmarker pada crosshair terus membuat saya menduga-duga selama permainan.

Sayangnya, jaman sekarang industri video game didominasi oleh game-game berorientasi player vs player online multiplayer dan saya rasa The Mean Greens harus bersaing keras dengan game-game multiplayer lain yang memenuhi pasar game saat ini. Kurangnya liputan terhadap game ini tentunya akan membuat persaingan jadi makin susah, apalagi kalau masih harus bersaing dengan game kelas berat macam Rainbow Six: Siege atau Star Wars Battlefront. Belum menghitung game-game multiplayer yang gratisan. Saya rasa sekarang ini kalau game-nya nggak punya presentasi “WAH” seperti game keluaran pengembang-pengembang besar, orang lebih tertarik buat main kalau game itu gratis.

Setting-an Low cuma bikin tekstur jelek

Anehnya, dalam setting-an “Low,” performa game nggak berubah dan cuma nurunin kualitas tekstur dan efek lain (dokumentasi pribadi)

Terlebih lagi novelty wears off pretty quick — terutama bagi mereka yang tidak akrab atau peduli dengan Army Men. Cepat atau lambat keunikan perang mainan akan sirna dan kamu menyadari, “Kita masih main game tembak-tembakan kayak biasanya, kan ya?” sekalipun kamu tidak cepat bosan melihat animasi karakter mencair kalau dihabisi pakai flamethrower.

Jujur saja, saya juga hanya bisa merekomendasikan game ini jika sedang diskon. Bukannya jelek, tapi saya sendiri sebenarnya cepat bosan dengan game yang cuma ada mode multiplayer dan tidak ada bot-nya. Komunitas yang kecil juga membuat saya agak was-was akan kelangsungan hidup game ini. Saya baru bisa merekomendasikan The Mean Greens – Plastic Warfare kalau harganya sedang ada di kisaran Rp50.000 ke bawah dan kamu bisa ajak beberapa teman buat ikut main.

(Gambar-gambar yang digunakan diambil langsung dari halaman Steam kecuali ada pemberitahuan)