Dibuat oleh Platinum Games yang terkenal lewat Bayonetta dan mengukuhkan posisinya sebagai developer game action yang over-the-top melalui Vanquish, Metal Gear Rising menggunakan gameplay yang bisa dibilang bertolak belakang dengan Metal Gear Solid. Dalam game ini, Anda akan memotong banyak musuh dan menghadapi banyak ledakan sebagai cyborg ninja Raiden.

Metal Gear Rising: Revengeance

Platform: Xbox 360 [review], PS3

Developer: Platinum Games

Publisher: Konami

Rilis: 19 Februari 2012

Kita akan menyaksikan pekerjaan baru Raiden beberapa tahun setelah cerita Metal Gear Solid 4 sebagai anggota kelompok private security contractor bernama Maverick, di mana tiba-tiba semua menjadi kacau-balau ketika dia sedamg melindungi seorang perdana menteri suatu negara di Afrika. Kelompok PMC Desperado datang menyerang konvoy, menculik si perdana menteri, memanggil sebuah Metal Gear RAY untuk memporak-porandakan kota, membunuh perdana menteri tadi, dan bahkan membuat Raiden kehilangan tangan dan mata kirinya. Dan disinilah chapter pertama game ini berakhir dan sub-judul Revengeance bermain.

“Revenge with a vengeance,” atau apa lah

Sebagai Raiden kita akan menebas apapun yang menghalangi jalan kita dalam perjalanan melakukan balas dendam. Dan ya, secara harfiah.

Bahkan sebelum Kojima menyerahkan proyek ini ke Platinum Games, fitur “tebas-semua-hal-yang-kamu-mau” sudah menjadi fitur utama game ini, seperti yang ditunjukkan oleh Kojima sendiri. Dengan senjata utamanya, pedang High Frequency Blade, Raiden akan bisa menebas banyak hal menjadi berkeping-keping.

Hal ini membawa kita ke salah satu poin utama gameplay Rising: Blade Mode. Ketika Anda memasuki mode Blade Mode — yang akan menguras bar energi, Raiden akan bisa mencincang semua musuh yang dia hadapi, asalkan Anda sudah melemahkan mereka atau menekan tombol yang muncul dengan benar. Dan jika Anda berhasil memotong pada titik tertentu yang ditandai oleh kotak kecil, Anda akan dapat melakukan “Zandatsu,” dimana Raiden akan mengambil organ musuh yang berisi elektrolit dan menghancurkannya. Dengan melakukan hal tersebut, maka Anda akan memulihkan bar energi dan HP.

…karena sepertinya cyborg ditenagai oleh elektrolit atau apa lah. Minum Mizone atau Pocari Sweat nggak cukup yang jelas.

Dan seperti yang Anda duga, mencincang orang (atau cyborg, terserah) menjadi potongan-potongan kecil sangatlah menyenangkan! Sangat memuaskan ketika berhasil melakukan “perfect parry,” memencet QTE dengan tepat, dan memotong musuh hingga anggota tubuh mereka tidak bisa diidentifikasi lagi. Semua terasa fluid, bagian-bagian yang terpotong terlihat cukup detil, dan perasaan melakukan pembantaian macam ini amat refreshing. Ditambah penurunan framerate pun hampir tidak terlihat walau terjadi ledakan dan layar dipenuhi potongan mayat!

Combat gameplay yang mengalir dengan mantap juga sangat membantu. Layaknya game action macam ini, terdapat banyak combo yang bisa di-unlock serta adanya beberapa “alternate weapon” yang didapat setelah mengalahkan bos membuat jalannya pertempuran semakin variatif. Platinum Games bahkan mampu membuat Rising terasa selayaknya sebuah game Metal Gear dengan “sub-weapons,” senjata tambahan yang bisa ditemukan di area pertempuran seperti RPG, granat, atau bahkan kardus kosong yang tentunya masih bisa digunakan untuk bersembunyi dari musuh.

Sejauh ini, Platinum Games belum pernah gagal dalam memberikan soundtrack yang mantap. Jujur saja, saya sudah dua kali merasa “hype” terhadap game buatan mereka hanya melalui soundtrack-nya.

Seperti Madworld dan Anarchy Reigns, Rising memiliki soundtrack yang tepat untuk mengiringi Anda dalam membuat kekacauan. Sama seperti perbedaan gameplay antara Solid dan Rising, game ini dipenuhi lagu elektronik yang cepat dan keras, berbeda jika dibandingkan dengan lagu serial Metal Gear Solid yang lebih slow dan bernuansa “mata-mata.”

And when the vocals kicks in, you know shit’s going to get real

Dari segi cerita, karena Kojima Production masih menangani sebagian besarnya, cerita game ini sesuai apa yang Anda harapkan dari sebuah game Metal Gear. Bagaimana perang mempengaruhi ekonomi, etika penggunaan pasukan cyborg, dan bahkan mencoba menangani masalah PTSD Raiden sejak dia menjadi tentara anak-anak. Tentunya semua dengan diselingi selera humor yang aneh.

Sayangnya, dengan mekanisme gameplay macam ini kedua bagian terasa tidak cocok untuk satu sama lain. Dimana dalam Metal Gear Solid Anda berperan sebagai prajurit dengan tubuh manusia normal yang “mudah hancur,” membuat kita mudah bersimpati dengan Snake. Tapi dalam Metal Gear Rising kita berperan sebagai cyborg ninja sakti yang dapat memotong segala macam objek.

Hal itu juga berimbas pada aspek stealth dari game ini. Jalur aman agar Anda dapat menghindari musuh memang disediakan, ada juga fitur “stealth-execution.” Tapi semua ini terasa semu ketika mekanisme untuk melakukan stealth pun terbatas (nunduk aja nggak bisa) dan sistem “award” juga memberikan lebih banyak Battle Points — poin untuk membeli upgrade, kostum, atau senjata — ketika Anda mengalahkan musuh-musuh yang ada.

Apakah benar atau tidak ini diakibatkan oleh sistem pertempuran yang sangat cepat, saya tidak tahu, tapi yang jelas: Game ini agak singkat. Sayangnya, pendeknya jangka waktu permainan juga membuat para bos musuh menjadi kurang menarik. Rasanya seperti kelompok cyborg “Winds of Destruction” tiba-tiba muncul hanya karena, “Kami jahat dan kami harus menghentikanmu!”

Tak kenal maka tak sayang. Sulit memberikan rasa simpati kepada mereka, terutama jika dibandingkan dengan musuh-musuh di Metal Gear sebelumnya.

Dan walaupun combat-nya sangat menyenangkan tapi kadang kali kegembiraan saya melakukan “cyborg genocide” terganggu oleh kameranya yang bandel atau fitur lock-on yang malah mempersempit jarak pandang saya. Alih-alih dimasukkan kedalam tombol khusus, fitur parry malah hanya bisa dilakukan dengan menekan tombol serangan sambil mengarahkan stik kearah musuh yang menyerang. Bisa dilakukan, tapi sangat rentan gagal.

Memang, sepertinya game ini memiliki banyak aspek negatif, tapi jangan salah, sisi positifnya melebihi sisi negatif. Dan game ini sendiri sangatlah menyenangkan serta memiliki konten yang lebih banyak dari yang Anda harapkan (yah berdasarkan apa yang tertulis di-review ini).

AI lawan cukup agresif dan sering membuat saya terpojok. Dan ketika berkelompok, bahkan musuh-musuh yang cere dapat merusak pertahanan saya. Disinilah keahlian penggunaan Blade Mode serta gerakan-gerakan lain diuji coba. Anda harus tahu kapan melakukan Zandatsu ke musuh yang lebih lemah dan melihat tanda-tanda yang tepat untuk melakukan parry atau menghindar. Ada juga item-item tersembunyi yang tersebar di berbagai area pertempuran, terminal yang membuka level VR mode serta data yang berisi concept art. Anda bahkan juga bisa mendapatkan data pribadi musuh dengan memotong dan mengumpulkan tangan kiri mereka. Anda juga bisa mendengarkan banyak percakapan antara Raiden dengan kru Maverick setiap saat melalui codec, yang membuka lebih dalam dunia Metal Gear Rising.

Mulai dari item rahasia, gelar yang bisa didapat dengan melakukan kriteria tertentu, serta fitur kustomisasi yang cukup variatif, Anda dapat mencari-cari alasan untuk memainkan game ini berkali-kali.

Memang, ini bukanlah game lain dalam seri Metal Gear Solid, tapi kendati memiliki banyak perbedaan, Rising berhasil menyesuaikan diri ke dalam dunia Metal Gear yang kita kenal. Penggemar veteran Metal Gear paling tidak bisa mencobanya sekali untuk melihat dunia Metal Gear dari sudut pandang lain, sementara pemain baru dapat langsung merasakan hebohnya permainan yang ditawarkan.

NILAI:

4/5 = Asik – Terasa lemah di beberapa bagian, entah dari faktor gameplay, visual, maupun cerita. Namun sebagian besar fitur bekerja dengan baik dan game-nya sendiri bisa dinikmati.